Aspirasipost.id -  Pelaksanaan Konsolidasi Partai Golkar Sulawesi Selatan wilayah Dapil Sulsel II di Kabupaten Soppeng, Jumat (16/5/2026), berlangsung meriah. Namun di balik semarak kegiatan tersebut, muncul sejumlah pertanyaan terkait komunikasi internal partai di tingkat daerah.

Sorotan utama tertuju pada absennya Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, dalam agenda konsolidasi yang digelar DPD II Golkar Soppeng. Situasi ini berbeda dengan pelaksanaan konsolidasi serupa di Dapil Sulsel I dan Dapil Sulsel III yang turut dihadiri unsur pemerintah daerah.

Belakangan diketahui, Pemerintah Kabupaten Soppeng tidak menerima undangan resmi dari DPD II Golkar Soppeng untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Saat dikonfirmasi terpisah, Suwardi Haseng membantah ketidakhadirannya disengaja.

“Saya sedang berada di Jakarta untuk urusan pemerintahan,” ujar Suwardi.

Ia juga mengungkapkan tidak adanya undangan resmi yang diterima dari pihak penyelenggara.

“Memang tidak ada undangan dari DPD II sebagai penyelenggara. Kalau ada undangan, tentu wakil bupati atau perwakilan pemerintah daerah lainnya bisa hadir,” tambahnya.

Dalam susunan acara yang beredar, juga tidak tercantum agenda sambutan dari unsur Pemerintah Kabupaten Soppeng maupun perwakilan pemerintah daerah lainnya.

Kondisi ini kontras dengan pelaksanaan Konsolidasi Golkar Sulsel di daerah lain. Pada Konsolidasi Golkar Sulsel I di Kabupaten Takalar, Bupati Takalar Moh Firdaus Daeng Manye yang bukan kader Golkar hadir memenuhi undangan DPD II Golkar Takalar. Sementara pada Konsolidasi Golkar Sulsel III di Kabupaten Pinrang, kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Pinrang mewakili pemerintah daerah atas undangan DPD II Golkar Pinrang.

Perbedaan tersebut memunculkan beragam tafsir politik di kalangan kader maupun pengamat lokal. Apalagi, Soppeng selama ini dikenal sebagai salah satu basis tradisional Partai Golkar di Sulawesi Selatan.

Dalam sambutannya di hadapan kader dan pengurus Golkar se-Sulsel II, Muhiddin M Said menekankan pentingnya soliditas dan persatuan kader sebagai kunci kemenangan partai.

“Yang menang adalah yang mampu menjaga soliditas dan persatuan,” tegas Muhiddin.

Ia juga beberapa kali menyoroti pentingnya membangun komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah demi memperkuat posisi partai di daerah.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian tersendiri karena forum konsolidasi di Soppeng berlangsung tanpa kehadiran kepala daerah yang juga merupakan kader Golkar.

Sejumlah pihak menilai absennya kepala daerah dalam forum konsolidasi partai di daerah sendiri merupakan situasi yang tidak lazim, terlebih kepala daerah tersebut berasal dari partai yang sama.