Aspirasipost.id -  Kekhawatiran akan memudarnya nilai-nilai budaya di kalangan generasi muda mulai mendapat perhatian serius. Forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Gugus I Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, menjadi panggung penting untuk menggugah kesadaran sekaligus menyatukan langkah dalam menyelamatkan identitas budaya melalui jalur pendidikan.

Dalam forum tersebut, para kepala sekolah sepakat bahwa pendidikan tidak boleh semata berorientasi pada capaian akademik. Lebih dari itu, sekolah harus menjadi benteng terakhir dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya lokal yang kian tergerus arus globalisasi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Andi Sumangerukka, menegaskan bahwa penguatan karakter berbasis budaya kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Menurutnya, tanpa fondasi budaya yang kuat, generasi muda akan kehilangan arah di tengah derasnya pengaruh luar.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan, hingga pihak swasta dinilai sebagai langkah konkret untuk menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam jati diri.

Senada dengan itu, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, H. Andi M. Zulkarnaen, mengingatkan bahwa pendidikan budaya tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Ia menuntut adanya implementasi nyata yang langsung menyentuh peserta didik, agar nilai-nilai luhur Bugis tidak sekadar menjadi slogan tanpa makna.

Dukungan juga datang dari sektor swasta. Direktur PT Perseroda Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, mendorong pemanfaatan Kawasan Wisata Lejja sebagai pusat edukasi budaya. Ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang mampu mengintegrasikan keindahan alam dengan kekayaan budaya lokal.

Forum ini juga menghidupkan kembali falsafah Bugis yang sarat makna: Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, nilai yang mengajarkan pentingnya saling menghargai, memuliakan, dan mengingatkan dalam kebaikan. Filosofi ini diyakini sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang berkarakter dan beradab.

Lebih dari sekadar diskusi, forum K3S Gugus I Lalabata diharapkan menjadi titik awal gerakan nyata di seluruh satuan pendidikan, khususnya di Kecamatan Lalabata dan Kabupaten Soppeng secara umum. Dengan semangat Resopa Temmangingngi, Namalomo Naletei Pammase Dewata, para pendidik berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak tercerabut dari akar budaya.

Dari ruang pertemuan yang sederhana, lahir sebuah pesan besar: masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana generasi muda mengenal dan bangga terhadap warisan budayanya.

(Iccank)