Aspirasipost.id -  Tradisi berbuka puasa di bulan Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga ruang mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan kecintaan pada kuliner daerah. Di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kawasan Mari-Mari di Desa Maccile, Kecamatan Lalabata, kembali menjadi destinasi favorit warga untuk menikmati suasana senja Ramadan, Sabtu (28/2/2026).

Berlokasi di perbatasan Desa Maccile dan Desa Belo, Kecamatan Ganra, kawasan kuliner ini dikenal dengan sajian khas Cindolo dan Tape yang oleh masyarakat setempat populer dengan singkatan “CINTA”. Menu tradisional ini telah bertahan puluhan tahun dan menjadi identitas kuliner Mari-Mari.

Ketua LSM SIDIK Kabupaten Soppeng, Mahmud, memilih tempat tersebut untuk berbuka puasa bersama sejumlah awak media usai melakukan pemantauan proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten dan Dana Desa.

Cindolo dan Tape bukan hanya pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, tetapi juga simbol warisan rasa yang tetap hidup di tengah gempuran menu modern. Disajikan dalam mangkuk, Cindolo yang lembut berpadu dengan tape bercita rasa manis-asam menghadirkan sensasi segar yang khas saat berbuka.

Di tengah maraknya mie instan dan minuman kekinian, eksistensi Cindolo dan Tape tetap terjaga. Mahmud pun mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam mempertahankan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas daerah.

“Menu khas seperti ini harus dipertahankan. Sudah puluhan tahun menjadi ciri khas Mari-Mari dan tetap diminati masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, kuliner tradisional memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan baik sebagai daya tarik wisata lokal di Kabupaten Soppeng.

Selain menikmati kebersamaan saat berbuka, Mahmud juga memaparkan hasil pemantauan lapangan terhadap sejumlah proyek pembangunan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi sayap Jembatan Toddang Saloe.

Berdasarkan hasil pantauan dan informasi warga, ditemukan keretakan pada beberapa bagian sayap jembatan. Mahmud menduga hal tersebut disebabkan oleh timbunan tanah yang kurang padat sehingga mengalami penurunan.

“Bagian utama jembatan masih terlihat bagus dan kokoh. Namun di sisi sayap jembatan terdapat retakan yang diduga akibat timbunan yang kurang padat sehingga mengalami penurunan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya evaluasi teknis dari dinas terkait guna mencegah potensi kerusakan yang lebih besar di masa mendatang.

Tak hanya itu, sejumlah proyek desa juga menjadi sorotan karena dinilai masih lemah dalam aspek pemeliharaan. Minimnya perawatan dikhawatirkan mempercepat penurunan kualitas infrastruktur dan berujung pada pemborosan anggaran.

“Masih ada proyek yang kurang pemeliharaan. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama agar anggaran yang sudah digunakan benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tegasnya.

Mahmud menegaskan, LSM SIDIK akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Soppeng. Pengawasan tersebut bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan dan spesifikasi teknis.

Momentum buka puasa bersama di Mari-Mari pun menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dan penguatan pembangunan dapat berjalan seiring. Di satu sisi, masyarakat menjaga warisan kuliner seperti Cindolo dan Tape. Di sisi lain, kualitas pembangunan infrastruktur harus terus diawasi demi kemajuan Kabupaten Soppeng yang berkelanjutan.

(Red)